Karena itulah target awal dan ternyata juga kemampuan saya
baking yang pertama dan satu-satunya sampai saat ini yaini, buat donat. Hehehe
Pengertian Donat
Donat merupakan salah satu jenis panganan yang digoreng yang
khas dengan bentuk cincin atau bolong tengahnya.
Iya, yang namanya donat itu ya harus digoreng, karena kalau
dikukus namanya bakpao, kalau dipanggang namanya roti.
Bukan begitu bestie? Hehehe
Donat terbuat dari adonan yang terdiri dari tepung terigu,
telur, gula pasir, ragi dan mentega. Donat biasanya ditaburi dengan hiasan
meses atau gula pasir halus sebagai topingnya.
Asal Mula Donat di Indonesia
Menurut beberapa literatur yang saya baca, Donat di
Indonesia bermula dari adanya stan American
Donut di
Djakarta Fair (sekarang disebut Pekan Raya Jakarta) pada tahun 1968. American Donut
merupakan perintis donat yang digoreng dengan mesin otomatis.
Sejak saat itulah mulai bermunculan ragam merk-merk donat
terkenal di Indonesia, mulai dari Dunkin Donuts, J.CO Donuts and Coffee, Krispy
Kreme Dougnuts, hingga Donut Madu. Selain merk-merk ini ada juga banyak sekali
merk-merk donat lokal atau rumahan yang rasanya tentu tidak kalah enak.
Hmmmm….diantara donut-donut dengan merk di atas, mana yang
menjadi favoritmu bestie?
Belajar Membuat Donat
Terhitung 4x sudah saya membuat donat. Percobaan pertama dan
kedua tidak bisa dikatakan gagal namun belum bisa dikatakan berhasil juga.
Karena meski rasanya “lumayan” namun bentuknya tidak jelas sama sekali.
Jangankan bentuknya cincin dengan bolong tengahnya, yang ada malah
lonjong-lonjong macam cakwe…hehehe
2x praktek selanjutnya alhamdulillah mengalami peningkatan
yang sangat signifikan. Donatnya bener-bener mantul. Dari segi bahan yang
digunakan sebenarnya hampir sama dengan percobaan 1 dan 2, yang membedakan dan
ternyata menjadi kunci berhasilnya membuat donat adalah cara mengolahnya.
Kok bisa mbak langsung meningkat gitu kemampuan buat
donatnya? Apa rahasianya?
Iya lho, rahasianya karena saya habis ikutan kelas memasak
dengan tema “Membuat Donat Anti Gagal” yang diadakan oleh sebuah grup komunitas
direct selling dari Tira Satria Niaga, sebut saja tim IDEA M3N. Platform yang
digunakan dalam kelas memsak inipun banyak, mulai zoom (bisa sekalian praktek
langsung), Grup Facebook, hingga Telegram. Ada beberapa tema camilan yang
dibuat, namun saya paling serius dan sudah coba praktek ya baru donat ini. Hehehe
Mbak Nurma, adalah narasumber di kelas membuat Donat Anti
Gagal. Beliau banyak memberi tahu tips dan trik membuat donat yang menul-menul,
yang enak tidak hanya segi rasa namun juga rupa. Ada 2 cara membuat donat yang
dijelaskan mbak Nurma waktu itu, dengan menggunakan mixer biasa dan (tanpa
mixer) alias ulen pakai tangan.
Berikut takaran membuat donat anti gagal yang saya gunakan
berdasarkan resep dari mbak Nurma. Di bawahnya sudah dilengkapi dengan cara
membuat donat dengan ulen tangan alias tanpa mixer. Karena ternyata
langkah-langkah pembuatan donat berbeda ketika menggunakan mixer atau tanpa
mixer.
Saya menggunakan takaran yang sama persis dengan yang
diatas, hanya untuk bagian gula pasir saya menggunakan gula pasir biasa dengan
takaran pun saya perbanyak agar lebih manis dan lebih sesuai dengan kebiasaan
lidah kami.
Ramadhan
di Ahad kedua, alhamdulillah.
Jika
Ahad lalu kami menghabiskan hari dengan kumpul-kumpul keluarga besar di rumah
mertua, hari ini cukup di rumah saja, tidak ada agenda keluar, kecuali beberapa
agenda internal keluarga untuk menuntaskan tantangan aktivitas Ramadhan Ceria
yang sempat tertunda.
Btw,
apa itu Ramadhan Ceria?
Ramadhan
Ceria adalah sebuah event khusus yang diadakan oleh komunitas Ibu Profesional
Semarang dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan agar tetap seru, bahagia,
dan tentunya menyenangkan bersama keluarga di rumah.
Ramadhan
Seru Ramadhan Berkah bersama Keluarga, begitu tagline dari event ini. Ada
banyak sekali tantangan aktivitas yang bisa menjadi inspirasi mengisi hari di
Ramadhan, mulai dari home decor, read aloud bingo, jingle Ramadhan, eksperimen
STEAM (Sains, Tecnology, Enginering, Art, Matematic), Bookish Play kisah Nabi-Nabi
Ulul Azmi, hingga fun cooking.
Nah,
untuk hari ini, target proyek tantangan yang akan kami tuntaskan adalah membuat
Bookish Play dari Kisah Nabi Ibrahim as. Kenapa kok perlu Bookish Play? Apa tidak
cukup membaca buku seperti biasanya saja? Emm…rutinitas itu kadang membosankan?
Betul kan? Nah agar kita tidak terpenjara rasa bosan, kita bisa memodifikasi
rutinitas tersebut, menambahkan sedikit bumbu agar rasa rutinitas tersebut
berganti. Pun demikian dengan aktivitas membaca bersama anak, agar anak tidak
lekas bosan, agar anak semakin paham bahan bacaan yang dibacanya, kita perlu
tambahkan unsur kreativitas. Bisa berupa aktivitas tambahan atau penggunaan
alat peraga.
Beberapa
hari sebelumnya, ibun sudah menyiapkan beberapa perangkat tambahan yang
sekiranya dibutuhkan dalam membuat Bookish Play. Jenis Bookish Play yang diinfokan
oleh panitia Ramadhan Ceria adalah membuat diorama ketika Nabi Ibrahim AS
dibakar oleh Raja Namrud karena merusak berhala-berhala sesembahan Raja Namrud
dan rakyatnya, yang mana atas seizin Allah, api-api yang digunakan untuk
membakar Nabi Ibrahim tersebut ternyata dingin, tidak panas. Sehingga Nabi
Ibrahim as tetap selamat, utuh tidak kurang suatu apapun.
Alat
dan bahan yang kami gunakan untuk membuat diorama Nabi Ibrahim as dibakar api
adalah
1. Kardus bekas (saya pakai kotak bekas gift yang
masih utuh
2. Kertas HVS (untuk menggambar api, tulisan
kaligrafi Nabi Ibrahim as
3. Tusuk sate
4. Crayon
5. Cat warna ramah anak
6. Gunting
7. Isolasi kertas
Langkah-langkah membuat diorama Nabi
Ibrahim dibakar api sebagai berikut,
1. Gambar kobaran api dan kaligrafi tulisan nama
Nabi Ibrahim menggunakan spidol di kertas HVS, jika memungkinkan buat beberapa
ukuran, kobaran api besar, kobaran api kecil.
2. Warnai gambar kobaran api tersebut, untuk proses
ini, anak-anak bisa dilibatkan.
3. Jika sudah diwarnai, gunting gambar kobaran api dan kaligrafi nama Nabi Ibrahim tersebut.
4. Ambil beberapa tusuk sate, potong setiap tusuk
sate menjadi 2 bagian.
5. Tempelkan tusuk sate di setiap gambar kobaran
api dengan menggunakan isolasi kertas, dengan posisi ujung tusuk sate yang
lancip di bawah (tujuannya agar bisa digunakan untuk menancapkan gambar di
kardus).
6. Cat tusuk sate yang tidak terpakai dengan warna
orange atau merah.
7. Angin-anginkan atau jemur sebentar sampai kering.
8. Jika sudah, pembuatan diorama Nabi Ibrahim
dibakar api siap dimulai.
Oiya, kalau kami, mengawali kegiatan
Bookish Play ini dengan membaca buku terlebih dahulu. Jadi, Ghaida ditemani ayah
membaca kisah Nabi Ibrahim as terlebih dahulu, mulai dari latar belakang
keluarga Nabi Ibrahim as yang mana ayah beliau adalah seorang pembuat patung-patung
berhala bernama Azar, perjalanan Nabi Ibrahim as mencari tuhannya, kisah Nabi
Ibrahim berdakwah kepada Raja Namrud dan rakyatnya untuk menyembah Allah,
hingga cerita tentang hijrahnya Nabi Ibrahim as ke Negara Syam, yang berujung
ke menikahnya Nabi Ibrahim as dengan Ibunda Siti Sarah dan Siti Hajar.
Proses membaca buku ini kami gunakan
untuk membangun pondasi pengetahuan Ghaida akan kisah salah satu Nabiyullah. Setelah
membaca buku, baru kami lanjutkan dengan membuat diorama ketika Nabi Ibrahim as
dibakar api oleh Raja Namrud. Di sela-sela pembuatan diorama, kami juga
menambahkan cerita tentang si burung yang membantu mengambil air guna
memadamkan api tersebut, juga cerita tentang si cicak yang turut serta
meniup-niup api agar besar. Berlatar belakang kisah inilah, setiap malam Jumat
kita disunnahkan untuk membutuh hewan cicak tersebut. Wallahu a’lam.
Belajar dari Falsafah Jawa
10 Titik Lemah Orang Jawa, Hindari
jika tidak kuat!
Sumber : Akun youtube keluargaarif.com
Sebuah Pengantar
Ada sebuah nasehat Jawa yang berbunyi,
Orang Jawa itu kalau dipangku pasti mati.
Pengapesane orang jawa itu dikatakan dengan kata “pangkon”.
Pengapesan berarti kelemahan.
Dimana untuk membahas perkara
“pangkon” ini kita akan menganalogikan dengan Aksara Jawa.
Mungkin bagi sebagian kita yang pernah
belajar Aksara Jawa dulu di tingkat sekolah dasar pasti tidak asing dengan
tulisan aksara jawa yang berbunyi Ho No Co Ro Ko Dho Tho So Wo Lo Po Do Jo Nyo Yo
Mo Go Bo To Ngo.
Tata cara penulisan Aksara Jawa ini,
tidah hanya soal tata cara penulisan, tetapi juga bisa menggambarkan watak dan
pengapesan-nya orang Jawa.
Aksara Jawa semua huruf vokal.
Semisal kita menulis kata Ma berjajar
dengan Nga kemudian dengan aksara jawa No, maka kata yang terbentuk adalah
Mangano. Semisal kita ingin mejadikan kata tersebut berbunyi Mangan, maka huruf
N harus dipangkon agar mati, dari No menjadi N.
Salah satu cara agar tulisan aksara
jawa yang vokal ini bisa berubah menjadi konsonan adalah dengan di pangkon.
Semua huruf jawa jika dipangku akan mati dan akan berubah makna beserta
artinya.
Huruf vokal : hidup
Huruf konsonan : mati
Yang menjadikan hidup menjadi mati
dalam aksara Jawa adalah pangkon.
sandhangan aksara jawa bernama pangkon, mematikan huruf vokal menjadi konsonan, semisal No jadi N, Mo jadi M dst
Adapun mati yang dimaksud disini bukan
mati terpisahnya jiwa dan raga seorang manusia, tetapi mati atau pangkon yang
dimaksud adalah adalah matinya dalam suatu sifat. Jika sifat buruk menjadi
pangkon difat baik, maka hidupnya akan semakin baik. Namun, jika sifat baiknya
mati karena pangkon sifat buruk, biasanya hidupnya akan sengsara.
Pangkon setiap orang berbeda-beda
tergantung kondisinya.
10 jenis pangkon yang sering terjadi
dalam kehidupan sehari-hari yang juga bisa menjadi titik lemahnya seorang
manusia (di bab ini akan di bahas 1-5 terlebih dahulu)
1.Kalungguhan/Jabatan/Kedudukan
Ada seseorang
yang mungkin dulu ketika masih muda paling suka mengkritik pemerintah, menyuarakan
apa-apa yang diyakininya benar dan baik untuk masyarakat. Namun setelah
memiliki jabatan, orang tersebut jadi berbeda 3600, diam tidak
berkutik. Orang model seperti ini berarti memiliki pangkon berupa Jabatan.
Dimana dia merasa lemah dan tidak berani bertindak karena jabatan yang
dimilikinya.
Ada sebelumnya
orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang baik, namun ketika menjabat
menjadikannya pribadi yang buruk. Karena belum kuat, makanya sifat baiknya bisa
mati karena sifat buruknya.
Namun buat orang
yang kuat, orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, jabatan tidak bisa
membunuh sifat-sifat baiknya, bahkan bisa menjadi kekuatan baru untuknya, karena
jabatan baginya adalah alat bukan tujuan
2.Duit/uang
Pengapesan bagi
sebagian banyak orang yang bahkan bisa menjadi pangkon mutlak adalah uang.
Uang adalah
pangkon yang paling nyata dan dekat dengan kita.
Contoh yang
terjadi di lingkungan sekitar kita adalah adanya kasus money politik yang sudah
menjadi rahasia umum banyak dilakukan oleh calon perwakilan daerah atau anggota
legislatif yang ingin maju. Uang menjadi salah satu senjata untuk membuat
masyarakat mau ikutan nyoblos.
Orang Indonesia
terutama Orang Jawa itu masih kental dengan ewuh pakewuh. Ketika dikasih uang rasanya
sungkan jika tidak memilih si pemberi uang. Jika semua calon memberinya uang,
maka dia akan memilih siapa yang memberi uang paling banyak.
Sebenarnya tetap
ada calon yang baik yang tidak menggunakan uang, namun karena semua kandidat
lawannya menggunakan money politic, mau tidak mau calon tersebut juga mengikuti
agar mendapatkan suara.
Hal ini kembali
lagi karena kondisi ekonomi dan juga kebutuhan masyarakat Indonesia yang
mayoritas masih dalam tahap berjuang, yang belum selesai dengan dirinya
sendiri, sehingga money politics masih banyak terjadi.
Namun bagi masyarakat
yang sudah kuat, sudah selesai dengan dirinya sendiri, uang seperti itu sudah
tidak bisa berguna. Karena masyarakat tingkat ini memilih pemerintah bukan
karena uang, namun karena kompetensi dan kemampuannya membawa daerah ke arah
yang lebih baik.
Hal ini sesuai
sekali dengan pendapat Abraham Maslom dalam hierarki kebutuhan manusia. Dimana
masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang berada dalam kondisi aktualisasi
diri dengan segala kebutuhan dasar tentang sandang pangan, rasa aman, kasih
sayang, dan penghargaan sudah tercukupi.
3.Barang Melok/Sesuatu yang mencolok
Pangkon
selanjutnya yang dapat membunuh karakter baik adalah barang yang melok.
Barang melok yang
dimaksud adalah barang yang bagus, barang yang mencolok.
Barang yang melok
ini bisa berupa barang mewah maupun perempuan ayu, cantik.
Kenapa
dianalogikan dengan perempuan ayu, cantik?
Ya, buat
laki-laki yang imannya tidak kuat, adanya perempuan bisa membuatnya terjerumus
dalam kesengsaraan.
Karena itulah ada
istilah harta, tahta, wanita. Kesemuanya ini adalah pangkon yang nyata.
Banyak laki-laki
yang kuat yang tidak tergoda dengan harta dan tahta, namun bagaimana dengan
wanita?
Di sekitar kita,
banyak sekali kisah pembelajaran tentang laki-laki yang sudah sukses langsung
sengsara hidupnya karena tergoda dengan adanya barang melok ini. Kehidupan yang
sudah dibangun sekian tahun kembali jatuh hanya gara-gara tergoda hal ini.
4. Kemareman/kepuasan
Rasa puas itu
kelihatannya sepele namun kadang bisa bikin pangkon yang membuat kita sengsara.
Karena itu orang-orang sukses banyak yang berpesan untuk selalu Andhap Asor
atau rendah hati.
Steve Jobs
pendiri perusahaan Apple pernah ngomong “stay hungry stay foolish” tetaplah
merasa bodoh tetaplah merasa lapar. Lapar yang dimaksud di sini adalah lapar ilmu.
Jangan pernah puas ketika sudah menguasai skil atau kemampuan tertentu.
Tetaplah merasa lapar, merasa bodoh agar terus mau belajar hal-hal baru. Karena
zaman berubah. Ilmu yang kita kuasai saat ini belum tentu bermanfaat untuk 10
tahun ke depan. Kalau kita sudah merasa puas, kita akan stuck dan tidak bisa berkembang.
Perkara pangkon
kepuaasan ini bisa terjadi di 3 hal, iman ilmu, dan amal.
Orang yang merasa
imannya paling tinggi perlu hati-hati agar tidak menjadi pangkon, karena jika
sudah “kepangkon” dia akan merasa paling beriman, mudah mengatakan orang lain
sessat, dan merasa paling layak masuk surga dibandingkan dengan orang lain.
Orang yang merasa
ilmunya paling banyak juga perlu hati-hati agar tidak menjadi pangkon, karena
jika sudah “kepangkon” dia merasa dirinya paling pintar dan orang lain bodoh
kabeh sehingga sulit menerima ilmu baru lainnya.
Orang yang merasa
amalnya paling banyak juga perlu hati-hati agar tidak menjadi pangkon, karena
jika sudah “kepangkon” nanti bisa membuat diri sombong, merasa derajat orang
lain rendah daripada diri sendiri.
Jangan pernah
merasa puas atau marem di perkara iman, ilmu, dan amal. Tetaplah merasa lapar
dan bodoh di perkara tersebut.
5. Aleman/Pujian
Pangkon
selanjutnya yang bisa membuat diri lemah adalah aleman atau pujian.
Setiap orang suka
dipuji.
Normalnya banyak orang
yang senang kalau perbutan baik yang pernah dilakukannya diakui sama orang lain.
Sebenarnya pujian
ini tidak masalah, namun jika keblabasan bisa menjadi pangkon bagi diri kita.
Pujian itu bisa
berupa apresiasi dan juga berupa pangkon.
Kalau diterima
dalam kadar yang pas bisa menjadi apresiasi yang itu juga kita butuhkan agar
kita semakin semangat.
Kalau porsinya
kebanyakan bisa membuat kita besar kembapa dan akhirnya menutup telinga
terhadap kritik. Kritik atau masukan yang penting malah bisa membuat kita merasa
tersinggung.
to be continued yaa 😇
-aku dan ibuku ketika ziaroh ke makam Sunan Kudus-
Saat kecil,
Aku merasa ibuku adalah ibu paling galak sedunia.
Karena ibuku suka sekali marah-marah.
Ibuku juga suka ngomel panjang lebar jika aku melanggar apa-apa yang sudah beliau ajarkan.
Aku melanggar 1x, ibu ngomel.
Aku melanggar 2x, ibu ngomel panjang.
Aku melanggar 3x, ibu ngomel panjaaaaang sekali.
Saat kecil,
Aku merasa ibuku tidak sayang padaku.
Jika siang, aku sering dikunci di dalam rumah bersama beliau, tak lupa adek turut serta. Tidur siang adalah agenda wajib yang tidak bisa diganggu gugat. Tidak peduli berapa banyak deraian air mata kami bercucuran karena ingin bermain di luar seperti teman-teman. Ibu tetap menegakkan aturan di rumah.
Saat kecil,
Aku merasa ibuku jahat padaku.
Karena aku seringkali diminta untuk membantu melakukan pekerjaan rumah, mulai cuci piring sendiri, cuci sepatu sendiri, hingga menyapu teras rumah saban pagi sebelum ke sekolah. Tak lupa juga mengajak main adekku bersama teman-teman yang lain, yaaa meskipun ujung-ujungnya adekku selalu buat ulah.
Kini,
Saat aku menjadi ibu,
Aku merasakan bagaimana posisi ibuku dulu.
Aku memahami setiap sudut pandang katanya yang digunakan ibuku.
Ibuku tidak galak, namun akunya yang tak juga mau menuruti.
Ibuku menasehati 1x dengan nada suara yang baik, aku tidak mendengarkan.
Ibuku mengulangi menasehatiku dengan nada suara yang baik 2x, aku abai.
Ibuku menasehati 3x dengan nada tinggi, aku baru mau mengerti.
Itulah yang sebenarnya terjadi, aku yang cuek dinasehati dengan nada pelan, namun tidak terima dan bilang ibuku galak ketika ibuku harus memasang nada suara tinggi karena aku tak jua mau menuruti.
Ibuku bukan tidak sayang padaku, namun justru sayang sekali.
Ibuku tahu, bahwa tidur siang sangat penting untuk masa pertumbuhan anak-anak.
Ibuku ingin, anak-anaknya tumbuh dengan penuh kedisiplinan.
Ibuku sangat paham, bahwa nanti ketika besar tidur siang menjadi rezeki yang tiada terkira.
Karena itu, untuk hal-hal tertentu ibuku sangat tegas dan tidak menerima kompromi.
Ibuku bukan jahat padaku, itulah cara beliau menempa anak-anaknya menjadi anak yang mandiri, mengerti pekerjaan rumah, paham makna bekerja sama, membiasakan open, peduli, serta peka terhadap kesulitan orang lain. Ibuku ingin anak-anaknya terbiasa berdikari, berdiri di kaki sendiri, pantang bergantung dan merepotkan orang lain.
Begitulah hakikatnya kasih sayang seorang ibu,
Tidak selalu dengan hal yang manis-manis yang melenakan,
Namun seringkali dengan tempaan-tempaan tegas yang menguatkan.
Semakin aku menyadari peranku saat ini sebagai seorang ibu,
Semakin membuncah kebahagiaanku memiliki ibu seperti ibuku.
Dan kamu tahu teman apa cita-cita terbesarku?
Aku ingin menjadi ibu seperti ibuku .
Masyaallah, bagi
saya ini materinya menarik pisan.
Cocok sekali
rasa-rasanya dengan kondisi kita saat ini yang setiap saat dihadapkan dengan media
sosial yang isinya macam-macam.
Ada yang
mungkin buat kita insecure,
Ada yang
mungkin buat kita merasa bangga,
Ada yang
rasanya kecut, asam, manis, dan rupa-rupa lainnya.
Karena itu,
kita butuh untuk semakin mengenal diri sendiri. Siapa tahu diantara perjalanan
mengenal diri sendiri terssebut kita bertemu dengan kondisi dimana membuat kita
berdamai dengan diri sendiri.
**
Berdamai =
melepaskan
Melepaskan
segala hal-hal yang membebani kita baik secara batiniah maupun lahiriah.
Terkadang
diri sendiri adalah orang yang paling jahat dan paling tega membully diri
sendiri.
Padahal
biasanya orang yang keras dengan diri sendiri, orang yang menuntut kesempurnaan
terhadap diri sendiri juga bakal menjadi orang yang sama terhadap orang lain.
Sesederhanaya,
kadang kita merasa bersalah untuk istirahat siang karena merasa tidak
produktif. Padahal
Ketika hati
belum berdamai, biasanya
1.Tidak Bahagia
Bahagia
bukan sesuatu yang menyenangkan. Bukan yang bersifat sementara. Bahagia itu
artinya cukup.
Gembira
perasaan suka yang ekspresif, durasinya sebentar.
Seneng
satu tingkat perasaan suka di atas seneng, durasinya lebih panjang dari
gembira. Standarnya bisa berubah-rubah.
Bahagia
perasaan tenang yang ada di dalam hati yang ajeg, durasinya lebih panjang.
Bahagia bukan tidak ada masalah, tapi lebih ke penerimaan, ke perasaan cukup.
2.Relasi Tidak Harmonis
Relasi
terhadap siapa?
Relasi
terhadap mereka yang kita berasa belum berdamai.
3.Produktivitas Menurun
Sibuk
dan sibuk adalah 2 hal yang berbeda. Biasanya ketika kita belum berdamai dengan
diri sendiri kita akan fokus pada kesalahan-kesalahan kita terus, sehingga
fokus kita tidak untuk produktif.
4.Kesehatan Menurun
Kondisi
psikosomatis. Kondisi fisik yang tidak nyaman karena kondisi psikis. Misal sering
sakit kepala, bisa jadi bukan karena penyakit, namun karena landasan emosi yang
tidak tersalurkan dan hanya dipendam.
5.Victim Mentality Syndrom (mental
korban, playing victim)
Perasaan
dimana kita merasa masalah kit ayang pualing besar dan paling berat
dibandingkan dengan masalah orang lain.
6.Feeling Guilty
Kita
selalu berlebihan menyalahkan diri sendiri.
Ketika
kita marah selama 5 menit, imunitas tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam.
Inilah
alasan kenapa biasanya ketika habis marah kita merasa sangat capek.
Berdamai
= Penerimaan
Yang
hancur bukan diri namun mimpi, yang hancur bukan hati namun ekspektasi.
Bagaimana
jika belum bisa menerima?
Ya
berarti kita menerima rasa atau kondisi bahwa kita belum bisa menerima.
Karena
semakin kita memaksa diri kita menerima, akan semakin sulit penerimaan itu
dirasakan oleh diri kita.
Beberapa
hal yang bisa mulai dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri adalah self acceptance
(menerima diri)
·Menerima
siapa kita yang apa adanya, bukan seharusnya kita
(kita memaksa diri untuk tampil sebagaimana
seharusnya kita, yang ingin selalu tampil oke, kuat, padahal aslinya tidak
seperti itu)
Kebahagiaan setiap pribadi menjadi tanggung
jawab masing-masing orang.
Kita bisa membuat senang orang,
namun tidak bisa dipastikan kita bisa membuat bahagia orang.
·Menerima
kesalahan dan kebaikan diri.
Seringkali kita terlalu fokus pada
kesalahan diri kita sendiri dulu, berusaha terlalu keras memperbaikimya tanpa
berusaha mengapresiasi diri kita sendiri terlebih dahulu.
·Menerima
segala episode takdir hidup kita
Bahwa segala apa yang hadir dan
terjadi dalam diri kita saat ini adalah hal yang memang seharusnya terjadi. Allah
tidak pernah menciptakan cerita yang salah untuk setiap hamba-Nya.
Jangan denial, jangan lari, namun
hadapi.
·Menerima
bahwa orang lain bukanlah kita
Menerima bahwa setiap orang punya
jalan ceritanya masing-masing.
Orang lain ya orang lain, bukan
kita.
Mereka punya ukuran sepatu yang bisa
jadi sangat berbeda dengan sepatu kita.
·Bertanggung
jawab atas kebahagiaan diri sendiri
“tidak ada orang lain yang bisa
masuk neraka karena orang lain”
“Jangan letakkan hatimu di mulut
orang lain”
“Solusi yang pas untuk diri kita
belum tentu pas sebagai soluis untuk orang lain”
“Orang baik itu adalah orang jahat
yang tersakiti”
“Jangan meletakkan standar kita
berdasarkan standar orang lain”
Kenyataan itu akan datang selalu
berubah-ubah. Hidup ini selalu dualitas.
“Aku tidak bisa masak”
Sebuah mantra yang selalu saya yakini setidaknya hingga kuliah.
Sejak kecil saya tidak terbiasa beraktivitas di dapur. Bukan bukan karena malas ya, namun karena memang di rumah kami intensitas kegiatan di dapur sangat minim.
“Ibuk lebih suka melayani pembeli daripada masak” ini adalah motto ibuk saya sejak dulu.
“Lebih baik kehilangan uang buat beli makanan jadi daripada repot bikin-bikin. Iya kalau enak, kalau tidak malah mubadzir” ungkapan tambahan ibuk lain waktu.
Jadi, momen bersama ibuk masak di dapur pas saya kecil itu sedikit sekali. Selain jarang masak, ibuk juga jarang mau dibantuin, “buat lama dan malah repot” itu alasan yang seringkali diungkapkan beliau. hehehe
Eh, istilah “masak” yang saya maksud disini itu masak yang “agak repot” ya bestie, semisal memasak jenis makanan yang butuh banyak bumbu, butuh proses yang lama, atau bebikinan kue-kue yang mana biasanya kita kenal dengan istilah baking. Kalau masak sayur sop, memasak mie, buat tumis sayur, goreng ayam dengan bumbu instan itu ibuk masih bisalah. Meski memang ragam menu makannya terbatas di masakan yang simpel dengan bumbu sederhana.
“Aku tidak bisa masak”
Pelan namun pasti, saya mulai membebaskan pikiran negatif saya tentang masak-memasak ini.
Sejak mulai kerja dan kost di Bogor kemudian Jakarta, saya mulai turun ke pasar untuk belanja sayur-sayuran, mulai mau mencoba memasak menu utama yang lain selain mie dan goreng telur. Alasan utama waktu itu tentu agar lebih hemat dan lebih sehat karena yakin dengan kebersihan olahan makanannya serta ke-higienis-an bahan-bahannya.
Saya mulai sering lihat-lihat youtube ataupun scroll bahan memasak melalui aplikasi cookpad. Mencoba re-cook versi saya….hehe.
Sekali dua kali tiga kali gagal, tetap semangat.
Empat kali lima kali enam kali gagal, auto mutung. Hahaha.
Kompetensi memasak saya cenderung stabil alias tidak mengalami peningkatan berarti hingga beberapa tahun kemudian. Jarang dilatih menjadi faktor utamanya.
Hingga akhirnya sampailah saya ke babak menikah dan memutuskan menjalani rumah tangga terpisah dari orang tua.
Haha, welcome new chapter drama in my life.
Salah satu skill yang harus mulai dikembangkan setelah menikah tentu saja memasak.
Kenapa kok memasak?
Karena saya ingin belajar menunjukkan seberapa besar cinta saya ke pasangan, ke keluarga lewat masakan, salah satunya. Memastikan makanan yang masuk adalah makanan yang baik dan sehat meskipun dengan olahan yang sederhana.hehehe.
Iya lho, setelah menikah itu, gairah memasak rasa-rasanya lebih membuncah daripada sebelumnya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Gairah inilah yang membuat diri lebih semangat eksplore dapur lebih sering, lebih tertantang untuk mencoba memasak menu baru, dan juga lebih intens mencari tahu tips-tips cara memasak yang anti gagal.hehe
Iya, seriusan, bahkan selama 1 tahun terakhir saya juga mulai merambah ke dunia baking lho, cieee gaya ya, padahal mah bisanya baru bikin donat doank…kwkwkw.
Dari pengalaman ini, saya pun bisa menarik kesimpulan, bahwa seringkali kita merasa tidak mampu melakukan suatu hal karena kita sudah terpenjara dengan pikiran kita sendiri. Padahal bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah bukan tidak bisa, namun tidak mau.
Practice makes perfect.
Kalimat ini nyata benar adanya. Semakin sering praktek kita akan semakin bisa, semakin sering diasah semakin jago. Ini berlaku untuk banyak hal yaa, tidak hanya untuk aktivitas memasak saja.
Demikian, sedikit cerita saya berjuang mematahkan mantra “Aku tidak bisa masak”.
Memang belum sampai ke tahap jago, namun setidaknya saya mau belajar…hehehe
Gagal coba lagi, gagal masak lagi, gagal buat lagi. Kwkwkw
Terima kasih yang tak terhingga untuk pak suami, yang selalu pasang badan menghabiskan apapun makanan yang dimasak istrinya. Meski seringkali rasanya maupun bentuknya ambyar. Hehehe
Btw, sampai saat ini saya belum bisa menaklukkan trauma masak lele, ikan, maupun kepala ayam. Beberapa kali masak belum matang, bukannya doyan malah jadi mual-mual. hehehe
Kata suami, saya itu orangnya suka kesusu alias terburu-buru ketika melakukan sesuatu, kurang sabaran, dan spaneng (terlalu serius).
Kata saya, suami itu cenderung lelet, terlalu santai bahkan santai banget, kalau bisa dilakukan nanti kenapa harus sekarang? yang penting pas dibutuhkan sudah selesai, begitu sukanya. Namun soal sabar dan ngelucu, suami juaranya.
Jadi ibarat arah mata angin, saya ngalor suami ngidul, suami ngetan saya kulon.
Kita tidak hanya beda, namun beda banget. kwkwkw
Jadi kebayang kan ya bagaimana serunya suasana kami saban pagi?
Saya yang riweh ingin semua segera siap, mending menunggu daripada telat itu prinsip saya, bertemu dengan suami yang santai woles menikmati aktivitasnya karena belanda masih jauh. ambyar gaes ambyar.
Tidak jarang, awal-awal menikah kami suka marahan karena sempat sama-sama shock dengan begitu bedanya sifat dan watak kami berdua.
Lalu sekarang bagaimana?
Alhamdulillah, jauh lebih baik daripada pola komunikasi kami dulu. Marahan tetap ada, Sebel-sebel ya tetep ada, namun kami lebih sadar diri bahwa memang ada beberapa hal-hal bawaan pasangan yang sudah stelannya begitu dari sana. Legowo dan berkompromi dengan segala hal yang berbeda tersebutlah yang membuat kami lebih menikmati ritme kehidupan berumah tangga ini.
Dan ternyata bin ternyata, pasangan yang memiliki watak berbeda atau berkebalikan itu adalah pasangan yang paling cocok lho, pendapat ini disampaikan oleh master neuosains Ibu Aisyah Dahlan, waaah
Mengenal Watak
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, watak memiliki arti sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti, dan tabiatnya.
Adapun watak adalah sifat batin manusia yang sudah ada sejak lahir dan turun menurun dari orangtua kepada anaknya. Sehingga watak lebih memiliki sifat paten dan cenderung tidak bisa diubah. Namun bukan berarti tidak bisa ya, karena ada juga watak yang bisa terbentuk karena pembelajaran.
Adapun terkait watak ini juga terdapat dalam dengan firman Allah QS:Al-Isra ayat 84 yang berbunyi,
قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا ࣖ
84. Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
Jenis-Jenis Watak
Awal Maret lalu, saya mengikuti kuliah zoom bersama dengan Ibu Aisyah Dahlan, CHt., CM., NLP. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan parade event Agar Cinta Bersemi Indah yang dihadirkan selama 7x pertemuan dengan beragam narasumber dan materi. Benang merah yang bisa ditarik dari rangkaian parade event ini adalah hampir semua materi yang disampaikan oleh narasumber adalah materi-materi basic yang perlu banget untuk para pasangan yang sedang berjuang bersama mewujudkan sakinah bersama.
Di awal pertemuan, bu Aisyah Dahlan memberikan kuis cepat untuk mendeteksi watak masing-masing. Ada sebuah pentas teater yang akan diadakan dengan 4 peran yang bisa dipilih, yaitu:
1. Artis
2. Penulis Naskah
3. Sutradara
4. Penonton
Setiap kita bebas memilih 2 peran yang itu menunjukkan “kita banget”.
Kemaren, ketika kuis ini diberikan, saya memilih peran sebagai artis dan sutradara. Karena menurut diri saya sendiri, saya cenderung suka tampil dan menjadi pusat perhatian, karena itulah saya memilih artis. Sedangkan alasan kenapa saya memilih menjadi sutradara, saya merasa diri ini memiliki keinginan untuk mengatur orang. Hehehe
Nah, ternyata ternyata peran yang kita pilih yang menunjukkan “aku banget” ini memiliki gambaran lebih detail tentang sederet fakta di belakangnya yang berkaitan dengan watak kita lho…
Nah kan, penasaran kan?
1. Peran Artis
Menunjukkan watak Sanguinis.
Watak ini memiliki hasrat gembira.
2. Peran Sutradara
Menunjukkan watak Koleris.
Watak ini memiliki hasrat mengatur.
3. Peran Penulis skenario
Menunjukkan watak Melankolis.
Watak ini memiliki hasrat sempurna.
4. Peran Penonton
Menunjukkan watak Plegmatis.
Watak ini memiliki hasrat damai.
Di atas ini adalah gambaran singkat tentang 4 watak.
Lain kali kita sambung dengan detail kebiasaan dan sifat dari 4 watak tersebut yaa
Ibu muda yang menyukai dunia literasi, parenting, dan psikologi yang saat ini sedang menekuni hobi menulis. Dengan menulis aku menyimpan memori, merasai segala sepi, menuai hikmah hakiki juga salah satu caraku menasehati diri sendiri.