10 Titik Lemah Orang Jawa (part 1)

Belajar dari Falsafah Jawa

10 Titik Lemah Orang Jawa, Hindari jika tidak kuat!

Sumber : Akun youtube keluargaarif.com 


Sebuah Pengantar

Ada sebuah nasehat Jawa yang berbunyi, Orang Jawa itu kalau dipangku pasti mati.

Pengapesane orang jawa itu dikatakan dengan kata “pangkon”.

Pengapesan berarti kelemahan.

Dimana untuk membahas perkara “pangkon” ini kita akan menganalogikan dengan Aksara Jawa.

Mungkin bagi sebagian kita yang pernah belajar Aksara Jawa dulu di tingkat sekolah dasar pasti tidak asing dengan tulisan aksara jawa yang berbunyi Ho No Co Ro Ko Dho Tho So Wo Lo Po Do Jo Nyo Yo Mo Go Bo To Ngo.


Tata cara penulisan Aksara Jawa ini, tidah hanya soal tata cara penulisan, tetapi juga bisa menggambarkan watak dan pengapesan-nya orang Jawa.

Aksara Jawa semua huruf vokal.

Semisal kita menulis kata Ma berjajar dengan Nga kemudian dengan aksara jawa No, maka kata yang terbentuk adalah Mangano. Semisal kita ingin mejadikan kata tersebut berbunyi Mangan, maka huruf N harus dipangkon agar mati, dari No menjadi N.


Salah satu cara agar tulisan aksara jawa yang vokal ini bisa berubah menjadi konsonan adalah dengan di pangkon. Semua huruf jawa jika dipangku akan mati dan akan berubah makna beserta artinya.

Huruf vokal : hidup

Huruf konsonan : mati

Yang menjadikan hidup menjadi mati dalam aksara Jawa adalah pangkon.

sandhangan aksara jawa bernama pangkon, mematikan huruf vokal menjadi konsonan, semisal No jadi N, Mo jadi M dst

Adapun mati yang dimaksud disini bukan mati terpisahnya jiwa dan raga seorang manusia, tetapi mati atau pangkon yang dimaksud adalah adalah matinya dalam suatu sifat. Jika sifat buruk menjadi pangkon difat baik, maka hidupnya akan semakin baik. Namun, jika sifat baiknya mati karena pangkon sifat buruk, biasanya hidupnya akan sengsara.

Pangkon setiap orang berbeda-beda tergantung kondisinya.

10 jenis pangkon yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang juga bisa menjadi titik lemahnya seorang manusia (di bab ini akan di bahas 1-5 terlebih dahulu)

1.Kalungguhan/Jabatan/Kedudukan

Ada seseorang yang mungkin dulu ketika masih muda paling suka mengkritik pemerintah, menyuarakan apa-apa yang diyakininya benar dan baik untuk masyarakat. Namun setelah memiliki jabatan, orang tersebut jadi berbeda 3600, diam tidak berkutik. Orang model seperti ini berarti memiliki pangkon berupa Jabatan. Dimana dia merasa lemah dan tidak berani bertindak karena jabatan yang dimilikinya.

Ada sebelumnya orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang baik, namun ketika menjabat menjadikannya pribadi yang buruk. Karena belum kuat, makanya sifat baiknya bisa mati karena sifat buruknya.

Namun buat orang yang kuat, orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, jabatan tidak bisa membunuh sifat-sifat baiknya, bahkan bisa menjadi kekuatan baru untuknya, karena jabatan baginya adalah alat bukan tujuan

2.Duit/uang

Pengapesan bagi sebagian banyak orang yang bahkan bisa menjadi pangkon mutlak adalah uang.

Uang adalah pangkon yang paling nyata dan dekat dengan kita.

Contoh yang terjadi di lingkungan sekitar kita adalah adanya kasus money politik yang sudah menjadi rahasia umum banyak dilakukan oleh calon perwakilan daerah atau anggota legislatif yang ingin maju. Uang menjadi salah satu senjata untuk membuat masyarakat mau ikutan nyoblos.

Orang Indonesia terutama Orang Jawa itu masih kental dengan ewuh pakewuh. Ketika dikasih uang rasanya sungkan jika tidak memilih si pemberi uang. Jika semua calon memberinya uang, maka dia akan memilih siapa yang memberi uang paling banyak.

Sebenarnya tetap ada calon yang baik yang tidak menggunakan uang, namun karena semua kandidat lawannya menggunakan money politic, mau tidak mau calon tersebut juga mengikuti agar mendapatkan suara.

Hal ini kembali lagi karena kondisi ekonomi dan juga kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritas masih dalam tahap berjuang, yang belum selesai dengan dirinya sendiri, sehingga money politics masih banyak terjadi.

Namun bagi masyarakat yang sudah kuat, sudah selesai dengan dirinya sendiri, uang seperti itu sudah tidak bisa berguna. Karena masyarakat tingkat ini memilih pemerintah bukan karena uang, namun karena kompetensi dan kemampuannya membawa daerah ke arah yang lebih baik.

Hal ini sesuai sekali dengan pendapat Abraham Maslom dalam hierarki kebutuhan manusia. Dimana masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang berada dalam kondisi aktualisasi diri dengan segala kebutuhan dasar tentang sandang pangan, rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan sudah tercukupi.

3.Barang Melok/Sesuatu yang mencolok

Pangkon selanjutnya yang dapat membunuh karakter baik adalah barang yang melok.

Barang melok yang dimaksud adalah barang yang bagus, barang yang mencolok.

Barang yang melok ini bisa berupa barang mewah maupun perempuan ayu, cantik.

Kenapa dianalogikan dengan perempuan ayu, cantik?

Ya, buat laki-laki yang imannya tidak kuat, adanya perempuan bisa membuatnya terjerumus dalam kesengsaraan.

Karena itulah ada istilah harta, tahta, wanita. Kesemuanya ini adalah pangkon yang nyata.

Banyak laki-laki yang kuat yang tidak tergoda dengan harta dan tahta, namun bagaimana dengan wanita?

Di sekitar kita, banyak sekali kisah pembelajaran tentang laki-laki yang sudah sukses langsung sengsara hidupnya karena tergoda dengan adanya barang melok ini. Kehidupan yang sudah dibangun sekian tahun kembali jatuh hanya gara-gara tergoda hal ini.

4. Kemareman/kepuasan

Rasa puas itu kelihatannya sepele namun kadang bisa bikin pangkon yang membuat kita sengsara. Karena itu orang-orang sukses banyak yang berpesan untuk selalu Andhap Asor atau rendah hati.

Steve Jobs pendiri perusahaan Apple pernah ngomong “stay hungry stay foolish” tetaplah merasa bodoh tetaplah merasa lapar. Lapar yang dimaksud di sini adalah lapar ilmu. Jangan pernah puas ketika sudah menguasai skil atau kemampuan tertentu. Tetaplah merasa lapar, merasa bodoh agar terus mau belajar hal-hal baru. Karena zaman berubah. Ilmu yang kita kuasai saat ini belum tentu bermanfaat untuk 10 tahun ke depan. Kalau kita sudah merasa puas, kita akan stuck dan tidak bisa berkembang.

Perkara pangkon kepuaasan ini bisa terjadi di 3 hal, iman ilmu, dan amal.

Orang yang merasa imannya paling tinggi perlu hati-hati agar tidak menjadi pangkon, karena jika sudah “kepangkon” dia akan merasa paling beriman, mudah mengatakan orang lain sessat, dan merasa paling layak masuk surga dibandingkan dengan orang lain.

Orang yang merasa ilmunya paling banyak juga perlu hati-hati agar tidak menjadi pangkon, karena jika sudah “kepangkon” dia merasa dirinya paling pintar dan orang lain bodoh kabeh sehingga sulit menerima ilmu baru lainnya.

Orang yang merasa amalnya paling banyak juga perlu hati-hati agar tidak menjadi pangkon, karena jika sudah “kepangkon” nanti bisa membuat diri sombong, merasa derajat orang lain rendah daripada diri sendiri.

Jangan pernah merasa puas atau marem di perkara iman, ilmu, dan amal. Tetaplah merasa lapar dan bodoh di perkara tersebut.

5. Aleman/Pujian

Pangkon selanjutnya yang bisa membuat diri lemah adalah aleman atau pujian.

Setiap orang suka dipuji.

Normalnya banyak orang yang senang kalau perbutan baik yang pernah dilakukannya diakui sama orang lain.

Sebenarnya pujian ini tidak masalah, namun jika keblabasan bisa menjadi pangkon bagi diri kita.

Pujian itu bisa berupa apresiasi dan juga berupa pangkon.

Kalau diterima dalam kadar yang pas bisa menjadi apresiasi yang itu juga kita butuhkan agar kita semakin semangat.

Kalau porsinya kebanyakan bisa membuat kita besar kembapa dan akhirnya menutup telinga terhadap kritik. Kritik atau masukan yang penting malah bisa membuat kita merasa tersinggung.

to be continued yaa šŸ˜‡

0 Comentarios

Follow Me On Instagram