“Aku tidak bisa masak”
Sebuah mantra yang selalu saya yakini setidaknya hingga kuliah.
Sejak kecil saya tidak terbiasa beraktivitas di dapur. Bukan bukan karena malas ya, namun karena memang di rumah kami intensitas kegiatan di dapur sangat minim.
“Ibuk lebih suka melayani pembeli daripada masak” ini adalah motto ibuk saya sejak dulu.
“Lebih baik kehilangan uang buat beli makanan jadi daripada repot bikin-bikin. Iya kalau enak, kalau tidak malah mubadzir” ungkapan tambahan ibuk lain waktu.
Jadi, momen bersama ibuk masak di dapur pas saya kecil itu sedikit sekali. Selain jarang masak, ibuk juga jarang mau dibantuin, “buat lama dan malah repot” itu alasan yang seringkali diungkapkan beliau. hehehe
Eh, istilah “masak” yang saya maksud disini itu masak yang “agak repot” ya bestie, semisal memasak jenis makanan yang butuh banyak bumbu, butuh proses yang lama, atau bebikinan kue-kue yang mana biasanya kita kenal dengan istilah baking. Kalau masak sayur sop, memasak mie, buat tumis sayur, goreng ayam dengan bumbu instan itu ibuk masih bisalah. Meski memang ragam menu makannya terbatas di masakan yang simpel dengan bumbu sederhana.
“Aku tidak bisa masak”
Pelan namun pasti, saya mulai membebaskan pikiran negatif saya tentang masak-memasak ini.
Sejak mulai kerja dan kost di Bogor kemudian Jakarta, saya mulai turun ke pasar untuk belanja sayur-sayuran, mulai mau mencoba memasak menu utama yang lain selain mie dan goreng telur. Alasan utama waktu itu tentu agar lebih hemat dan lebih sehat karena yakin dengan kebersihan olahan makanannya serta ke-higienis-an bahan-bahannya.
Saya mulai sering lihat-lihat youtube ataupun scroll bahan memasak melalui aplikasi cookpad. Mencoba re-cook versi saya….hehe.
Sekali dua kali tiga kali gagal, tetap semangat.
Empat kali lima kali enam kali gagal, auto mutung. Hahaha.
Kompetensi memasak saya cenderung stabil alias tidak mengalami peningkatan berarti hingga beberapa tahun kemudian. Jarang dilatih menjadi faktor utamanya.
Hingga akhirnya sampailah saya ke babak menikah dan memutuskan menjalani rumah tangga terpisah dari orang tua.
Haha, welcome new chapter drama in my life.
Salah satu skill yang harus mulai dikembangkan setelah menikah tentu saja memasak.
Kenapa kok memasak?
Karena saya ingin belajar menunjukkan seberapa besar cinta saya ke pasangan, ke keluarga lewat masakan, salah satunya. Memastikan makanan yang masuk adalah makanan yang baik dan sehat meskipun dengan olahan yang sederhana.hehehe.
Iya lho, setelah menikah itu, gairah memasak rasa-rasanya lebih membuncah daripada sebelumnya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Gairah inilah yang membuat diri lebih semangat eksplore dapur lebih sering, lebih tertantang untuk mencoba memasak menu baru, dan juga lebih intens mencari tahu tips-tips cara memasak yang anti gagal.hehe
Iya, seriusan, bahkan selama 1 tahun terakhir saya juga mulai merambah ke dunia baking lho, cieee gaya ya, padahal mah bisanya baru bikin donat doank…kwkwkw.
Dari pengalaman ini, saya pun bisa menarik kesimpulan, bahwa seringkali kita merasa tidak mampu melakukan suatu hal karena kita sudah terpenjara dengan pikiran kita sendiri. Padahal bisa jadi yang sebenarnya terjadi adalah bukan tidak bisa, namun tidak mau.
Practice makes perfect.
Kalimat ini nyata benar adanya. Semakin sering praktek kita akan semakin bisa, semakin sering diasah semakin jago. Ini berlaku untuk banyak hal yaa, tidak hanya untuk aktivitas memasak saja.
Demikian, sedikit cerita saya berjuang mematahkan mantra “Aku tidak bisa masak”.
Memang belum sampai ke tahap jago, namun setidaknya saya mau belajar…hehehe
Gagal coba lagi, gagal masak lagi, gagal buat lagi. Kwkwkw
Terima kasih yang tak terhingga untuk pak suami, yang selalu pasang badan menghabiskan apapun makanan yang dimasak istrinya. Meski seringkali rasanya maupun bentuknya ambyar. Hehehe
Btw, sampai saat ini saya belum bisa menaklukkan trauma masak lele, ikan, maupun kepala ayam. Beberapa kali masak belum matang, bukannya doyan malah jadi mual-mual. hehehe
ABOUT ME
Ibu muda yang menyukai dunia literasi, parenting, dan psikologi yang saat ini sedang menekuni hobi menulis. Dengan menulis aku menyimpan memori, merasai segala sepi, menuai hikmah hakiki juga salah satu caraku menasehati diri sendiri.
POPULAR POSTS
Categories
- Bookish Play 1
- Cerita Manda 3
- Falfasah Jawa 1
- Hasil Belajar 1
- Hikmah 1
- Ilmu 1
- Kuliner Asyik 1
- Literasi 1
- Masakanku 1
- Membaca Buku 1
- Petualangan Ghaida 1
- Relationship 2
Contact form
Search This Blog
Powered by Blogger.
Tentang Aku
- amandafuadillah
- Batang, Jawa Tengah, Indonesia
- selamat datang di rumah Cerita tentang Kita. mari berkenalan dan bercerita lebih banyak tentang kita.


0 Comentarios