Masyaallah, bagi
saya ini materinya menarik pisan.
Cocok sekali
rasa-rasanya dengan kondisi kita saat ini yang setiap saat dihadapkan dengan media
sosial yang isinya macam-macam.
Ada yang
mungkin buat kita insecure,
Ada yang
mungkin buat kita merasa bangga,
Ada yang
rasanya kecut, asam, manis, dan rupa-rupa lainnya.
Karena itu,
kita butuh untuk semakin mengenal diri sendiri. Siapa tahu diantara perjalanan
mengenal diri sendiri terssebut kita bertemu dengan kondisi dimana membuat kita
berdamai dengan diri sendiri.
**
Berdamai =
melepaskan
Melepaskan
segala hal-hal yang membebani kita baik secara batiniah maupun lahiriah.
Terkadang
diri sendiri adalah orang yang paling jahat dan paling tega membully diri
sendiri.
Padahal
biasanya orang yang keras dengan diri sendiri, orang yang menuntut kesempurnaan
terhadap diri sendiri juga bakal menjadi orang yang sama terhadap orang lain.
Sesederhanaya,
kadang kita merasa bersalah untuk istirahat siang karena merasa tidak
produktif. Padahal
Ketika hati
belum berdamai, biasanya
1. Tidak Bahagia
Bahagia
bukan sesuatu yang menyenangkan. Bukan yang bersifat sementara. Bahagia itu
artinya cukup.
Gembira
perasaan suka yang ekspresif, durasinya sebentar.
Seneng
satu tingkat perasaan suka di atas seneng, durasinya lebih panjang dari
gembira. Standarnya bisa berubah-rubah.
Bahagia
perasaan tenang yang ada di dalam hati yang ajeg, durasinya lebih panjang.
Bahagia bukan tidak ada masalah, tapi lebih ke penerimaan, ke perasaan cukup.
2. Relasi Tidak Harmonis
Relasi
terhadap siapa?
Relasi
terhadap mereka yang kita berasa belum berdamai.
3. Produktivitas Menurun
Sibuk
dan sibuk adalah 2 hal yang berbeda. Biasanya ketika kita belum berdamai dengan
diri sendiri kita akan fokus pada kesalahan-kesalahan kita terus, sehingga
fokus kita tidak untuk produktif.
4. Kesehatan Menurun
Kondisi
psikosomatis. Kondisi fisik yang tidak nyaman karena kondisi psikis. Misal sering
sakit kepala, bisa jadi bukan karena penyakit, namun karena landasan emosi yang
tidak tersalurkan dan hanya dipendam.
5. Victim Mentality Syndrom (mental
korban, playing victim)
Perasaan
dimana kita merasa masalah kit ayang pualing besar dan paling berat
dibandingkan dengan masalah orang lain.
6. Feeling Guilty
Kita
selalu berlebihan menyalahkan diri sendiri.
Ketika
kita marah selama 5 menit, imunitas tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam.
Inilah alasan kenapa biasanya ketika habis marah kita merasa sangat capek.
Berdamai
= Penerimaan
Yang
hancur bukan diri namun mimpi, yang hancur bukan hati namun ekspektasi.
Bagaimana
jika belum bisa menerima?
Ya
berarti kita menerima rasa atau kondisi bahwa kita belum bisa menerima.
Karena
semakin kita memaksa diri kita menerima, akan semakin sulit penerimaan itu
dirasakan oleh diri kita.
Beberapa
hal yang bisa mulai dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri adalah self acceptance
(menerima diri)
·
Menerima
siapa kita yang apa adanya, bukan seharusnya kita
(kita memaksa diri untuk tampil sebagaimana
seharusnya kita, yang ingin selalu tampil oke, kuat, padahal aslinya tidak
seperti itu)
Kebahagiaan setiap pribadi menjadi tanggung
jawab masing-masing orang.
Kita bisa membuat senang orang,
namun tidak bisa dipastikan kita bisa membuat bahagia orang.
·
Menerima
kesalahan dan kebaikan diri.
Seringkali kita terlalu fokus pada
kesalahan diri kita sendiri dulu, berusaha terlalu keras memperbaikimya tanpa
berusaha mengapresiasi diri kita sendiri terlebih dahulu.
·
Menerima
segala episode takdir hidup kita
Bahwa segala apa yang hadir dan
terjadi dalam diri kita saat ini adalah hal yang memang seharusnya terjadi. Allah
tidak pernah menciptakan cerita yang salah untuk setiap hamba-Nya.
Jangan denial, jangan lari, namun
hadapi.
·
Menerima
bahwa orang lain bukanlah kita
Menerima bahwa setiap orang punya
jalan ceritanya masing-masing.
Orang lain ya orang lain, bukan
kita.
Mereka punya ukuran sepatu yang bisa
jadi sangat berbeda dengan sepatu kita.
·
Bertanggung
jawab atas kebahagiaan diri sendiri
“tidak ada orang lain yang bisa
masuk neraka karena orang lain”
“Jangan letakkan hatimu di mulut
orang lain”
“Solusi yang pas untuk diri kita
belum tentu pas sebagai soluis untuk orang lain”
“Orang baik itu adalah orang jahat
yang tersakiti”
“Jangan meletakkan standar kita
berdasarkan standar orang lain”
Kenyataan itu akan datang selalu
berubah-ubah. Hidup ini selalu dualitas.


0 Comentarios