![]() |
| -aku dan ibuku ketika ziaroh ke makam Sunan Kudus- |
Saat kecil,
Aku merasa ibuku adalah ibu paling galak sedunia.
Karena ibuku suka sekali marah-marah.
Ibuku juga suka ngomel panjang lebar jika aku melanggar apa-apa yang sudah beliau ajarkan.
Aku melanggar 1x, ibu ngomel.
Aku melanggar 2x, ibu ngomel panjang.
Aku melanggar 3x, ibu ngomel panjaaaaang sekali.
Saat kecil,
Aku merasa ibuku tidak sayang padaku.
Jika siang, aku sering dikunci di dalam rumah bersama beliau, tak lupa adek turut serta. Tidur siang adalah agenda wajib yang tidak bisa diganggu gugat. Tidak peduli berapa banyak deraian air mata kami bercucuran karena ingin bermain di luar seperti teman-teman. Ibu tetap menegakkan aturan di rumah.
Saat kecil,
Aku merasa ibuku jahat padaku.
Karena aku seringkali diminta untuk membantu melakukan pekerjaan rumah, mulai cuci piring sendiri, cuci sepatu sendiri, hingga menyapu teras rumah saban pagi sebelum ke sekolah. Tak lupa juga mengajak main adekku bersama teman-teman yang lain, yaaa meskipun ujung-ujungnya adekku selalu buat ulah.
Kini,
Saat aku menjadi ibu,
Aku merasakan bagaimana posisi ibuku dulu.
Aku memahami setiap sudut pandang katanya yang digunakan ibuku.
Ibuku tidak galak, namun akunya yang tak juga mau menuruti.
Ibuku menasehati 1x dengan nada suara yang baik, aku tidak mendengarkan.
Ibuku mengulangi menasehatiku dengan nada suara yang baik 2x, aku abai.
Ibuku menasehati 3x dengan nada tinggi, aku baru mau mengerti.
Itulah yang sebenarnya terjadi, aku yang cuek dinasehati dengan nada pelan, namun tidak terima dan bilang ibuku galak ketika ibuku harus memasang nada suara tinggi karena aku tak jua mau menuruti.
Ibuku bukan tidak sayang padaku, namun justru sayang sekali.
Ibuku tahu, bahwa tidur siang sangat penting untuk masa pertumbuhan anak-anak.
Ibuku ingin, anak-anaknya tumbuh dengan penuh kedisiplinan.
Ibuku sangat paham, bahwa nanti ketika besar tidur siang menjadi rezeki yang tiada terkira.
Karena itu, untuk hal-hal tertentu ibuku sangat tegas dan tidak menerima kompromi.
Ibuku bukan jahat padaku, itulah cara beliau menempa anak-anaknya menjadi anak yang mandiri, mengerti pekerjaan rumah, paham makna bekerja sama, membiasakan open, peduli, serta peka terhadap kesulitan orang lain. Ibuku ingin anak-anaknya terbiasa berdikari, berdiri di kaki sendiri, pantang bergantung dan merepotkan orang lain.
Begitulah hakikatnya kasih sayang seorang ibu,
Tidak selalu dengan hal yang manis-manis yang melenakan,
Namun seringkali dengan tempaan-tempaan tegas yang menguatkan.
Semakin aku menyadari peranku saat ini sebagai seorang ibu,
Semakin membuncah kebahagiaanku memiliki ibu seperti ibuku.
Dan kamu tahu teman apa cita-cita terbesarku?
Aku ingin menjadi ibu seperti ibuku
.


0 Comentarios